Tampilkan postingan dengan label interior. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label interior. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Juni 2021

Jenis-Jenis Jendela Berdasarkan Bukaannya


Jendela ialah bab dinding yang dilubangi (cukup besar) untuk pencahayaan ruangan. Jendela yang daunnya mampu dibuka juga berfungsi sebagai ventilasi keluar masuknya udara dalam ruangan. Pemasangan jendela pada rumah tidak hanya memperhatikan fungsi tetapi juga estetika saat jendela tersebut dilihat dari luar maupun dalam bangunan.

Jendela pada rumah yang dibuat dengan lis yang indah

Ada beragam jenis jendela yang bisa dipasang di rumah sesuai dengan kebutuhan dan selera desain masing-masing. Sebelum menetapkan untuk memasang jendela pada bangunan hendaknya kita mengenali apalagi dahulu tipe-tipe dan jenis jendela dan beserta karakteristiknya masing-masing. Berdasarkan jenis bukaannya, ada berbagai macam jendela yang terkenal di Indonesia antara lain :

1.    Jendela Sayap atau Jendela Ayun (Swing Window)
 
Jenis jendela swing adalah jendela yang daunnya digantung pada ambang atas/bawah atau pada sisi samping. Daun-daun jendela ini ditempatkan pada engsel depan/belakang. Bagian jendela mampu dibuka sarat .

Jendela swing yakni opsi yang tepat ketika kita ingin menciptakan jendela dengan takjil penuh, alasannya adalah sistemnya seperti dengan pintu. Namun kelemahan jenis jendela swing ini yaitu mengkonsumsi banyak ruang untuk membuka jendela.

Contoh jendela ayun (engsel di atas) - img by pinterest

Arah kudapan jendela swing lazimnya yakni keluar bangunan, bukaan jendela dikunci dengan memakai kait angin yang menahan semoga daun jendela tetap terbuka serta tidak diterbangkan angin. Membersihkan jenis jendela ini mesti dilakukan dari luar bangunan.

Komponen dari jendela ayun ialah kusen jendela, jaun jendela, kaca, engsel ayun, grendel dan kait angin. Komponennya tergolong cukup sederhana dan gampang untuk dipasang dan tidak membutuhkan tukang khusus sehingga mampu lebih irit ongkos.

Baca Juga : Rasio Luas Jendela dengan Luas Lantai


2.    Jendela Sorong atau Jendela Geser (Sliding Window)
 
Pada jenis jendela geser, daun-daun jendela dapat didorong secara vertikal atau horizontal. Daun-daun jendela ini diposisikan pada alur depan rangka atau pada alat/rel. Bagian jendela mampu dibuka nyaris setengahnya.

Jenis jendela sliding yakni opsi yang tepat untuk  rumah di lahan sempit, alasannya adalah tidak memerlukan ruang untuk membuka jendela sementara udara masuk yang diperoleh juga cukup besar. Jendela sliding juga lebih gampang dipasangi kawat nyamuk atau mosquito net dan tidak mengusik metode bukaan jendela.

Contoh jendela geser - img by pinterest

Komponen jendela geser atau jendela sliding sedikit lebih banyak dari jendela ayun alasannya perlu rel pada jendela. Namun untuk jendela geser yang berskala kecil, cukup menyediakan coakan kaca selaku rel sehingga tidak perlu suplemen aksesoris.

Pemasangan jendela geser tergolong lebih rumit dibandingkan jendela ayun dan memerlukan tukang yang lebih terlatih dalam memasang jendela. Dengan demikian maka harga jendela geser beserta biaya pasang umumnya sedikit lebih mahal dari jendela ayun.

Baca Juga : Perhitungan Luas Jendela untuk Pencahayaan


3.    Jendela Mati (Fix Window)
 
Jendela ini daunnya tidak dapat dibuka sehingga hanya bisa berfungsi selaku pencahayaan ruangan. Jendela fix cocok dipakai untuk ruangan yang terisolasi namun masih mampu tembus cahaya. Penggunaan jendela fix contohnya adalah di kamar mandi untuk memperoleh cahaya masuk namun tidak mengijinkan bau kamar mandi keluar.


Demikianlah tentang jenis-jenis jendela yang populer di Indonesia, sesudah mengenali masing-masing bentuk dan fungsi dari setiap jenis jendela di atas agar teman bisa lebih bijak menentukan dan memasang jendela di rumah. Semoga bermanfaat dan mampu menambah wawasan terim kasih.

Sumber https://www.arsitur.com/

Minggu, 30 Mei 2021

Tips Menentukan Dan Memesan Kitchen Set

Sekilas Tentang Kitchen Set


Tips Memilih dan Memesan Kitchen Set

Kitchen Set Adalah

Memilih Kitchen Set

Memilih kitchen set sejatinya bukan ialah hal yang merepotkan asalkan kita mengetahui persyaratan dan kebutuhan kita kepada kemudahan ini.

1. Perhatikan Ukuran

Perhatikan ukuran yang tersedia di dalam dapur yang mau dipakai untuk dipasang kitchen set. Ingat keseimbangan antara luas space dapur dengan ukuran kitchen set menjadi hal yang mutlak dilakukan sebelum berbelanja suatu kitchen set. Jangan sampai membeli kitchen set yang terlalu besar padahal ukuran ruangan dapur anda kecil atau sebaliknya.

2. Pastikan Lantai Dapur Benar-Benar Kuat

Sebaiknya menentukan lantai dapur sungguh-sungguh berpengaruh untuk menopang kitchen set dan juga lantai dan dinding tahan terhadap panas. Agar kitchen set makin infinit

3. Membuat Urutan Posisi Memasak

Membuat urutan posisi ketika memasak juga bisa menjadi materi pertimbangan. Perlengkapan dapur kebanyakan berisikan kompor gas, kolam cuci piring, rak piring, dan berbagai perlengkpan dapur lainnya. Untuk itu anda perlu menciptakan gambaran dimana letak alat-alat tersebut semoga aktifitas di dapur berjalan tanpa hambatan dan mengasyikkan.

Baca juga : Tanya Jawab Seputar Wastafel Dapur (Kitchen Sink)

4. Pilih Bahan Yang Sesuai Kebutuhan

Pilih bahan kitchen set yang tepat kebutuhan dan anggaran. Bisa dengan kayu yang bernilai seni tinggi atau alumunium yang kekal. Apapun itu pasti ada kekurangan dan keunggulan masing-masing jadi mesti pilih yang sempurna sesuai keinginan anda.

5. Lengkapi Dengan Cooker Hood

Cooker hood ini mempunyai fungsi yang sungguh penting alasannya adalah akan menguras asap dan uap panas yang dihasilkan dari proses memasak tersebut untuk berikutnya dikeluarkan dari dapur. Keberadaan cooker hood juga sekaligus akan menciptakan furniture yang ada didapur akan semakin abadi. Nah dianjurkan jika memasang kitchen set, seharusnya anda melengkapinya dengan cooker hood.

6. Pencahayaan Yang Sesuai

Buat pencahayaan atau lighting yang sesuai. Satu prinsip dasar yang harus dikenang yaitu bahwa tata cara pencahayaan akan sangat menentukan ketentraman yang kita peroleh. Disarankan sealin menentukan watt yang sesuai juga perlu ditambahkan lampu emergency ketika listrik datang” mati.

Baca juga : 20+ Inspirasi Ide Desain Dapur Minimalis Asia

7. Gunakan Kabinet

Pertimbangkan untuk menaruk tabung gas dan daerah sampah didalam kabinet, hal ini bermaksud supaya dapur anda menerima kesan yang lebih rapi dan bersih.

8. Keselarasan Warna

Perhatikan keharmonisan warna dinding dapur dengan warna kitchen set. Keselrasana warna akan memberikan suasana yang nyaman dan tampilan dapur yang anggun dan serasi.

9. Mudah dalam perawatan

Terakhir pilih kitchen set yang mudah dalam perawatan. Bertujuan semoga kitchen set senantiasa rapi dan higienis juga kekal.

Sumber https://www.arsitur.com/

Sabtu, 29 Mei 2021

Cara Menentukan Tinggi Plafon Ideal

Tinggi plafon dalam suatu rumah atau bangunan yang lain sejatinya tidak ada patokan yang niscaya. Perancang ataupun pelaksana pembangunan bebas menentukan Berapa tinggi yang diinginkannya sehingga yang sering menuntut ketinggian plafon yakni dari pengguna bangunan itu sendiri.
 

Pengertian Plafon

Plafon yakni salah satu unsur penting dalam sebuah rumah.  Secara  arsitektural plafon merupakan batas batas atas suatu ruang. Fungsi plafon berbeda dengan atap alasannya adalah plafon tidak melindungi ruangan dari panas ataupun hujan tetapi lebih terhadap estetika untuk menutupi struktur atap sehingga  ruangan tampaklebih rapi dan higienis.
 
Solusi memilih tinggi plafon

Secara prinsip ada dua jenis plafon pada bangunan adalah plafon terbuka dan tertutup.  Plafon terbuka disebut juga  expose  ceiling karena pribadi memakai struktur atap selaku plafon.  Cara ini juga bisa dianggap tidak memakai plafon sama sekali. Sementara plafon tertutup adalahplafon yang menggunakan bahan tertentu untuk menyembunyikan sebagian atau seluruh struktur atap sehingga tidak tampakdari ruang di bawahnya.

Menentukan Tinggi Plafon

Walaupun dapat menentukan sendiri tetapi tinggi plafon tidak bisa dibentuk asal-asalan sebab akan mempunyai pengaruh pada estetika ruang dan ketentraman ruang itu sendiri. Sebelum menentukan tinggi plafon ada baiknya kita mengamati hal-hal selaku berikut adalah:  iklim, fungsi ruang, proporsi  ruang atau estetika ruang,  sirkulasi udara dan pencahayaan serta biaya proyek yang ditentukan.  Berikut penjelasannya.

1. Tinggi plafon ideal sesuai kondisi iklim

Desain plafon sesuai kondisi iklim
 
Mengapa iklim berpengaruh kepada tinggi plafon ? Hal ini alasannya perbedaan iklim di sebuah daerah menyebabkan perbedaan suhu yang cukup signifikan.  Manusia memerlukan suhu yang ideal untuk tinggal sebab itu diperlukan cara-cara supaya ruangan yang ditempati sesuai dengan kebutuhan. Bahkan yang lebih rendah dapat menciptakan Ruangan menjadi lebih hangat  sementara bapak yang tinggi mampu membuat ruangan terasa lebih  sejuk.

Di daerah yang mempunyai iklim hambar cenderung menggunakan plafon yang rendah.  Sebut saja di Jepang atau Eropa yang memakai tinggi plafon untuk ruang tidur sekitar 2,4 hingga 2,5 meter.  Hal ini mampu menekan penggunaan pemanas ruangan dikala animo cuek atau musim salju.

Sementara di Indonesia yang mempunyai iklim tropis dengan suhu siang hari yang lumayan panas memerlukan sirkulasi udara yang lebih baik sehingga lazimnya plafon dibuat lebih tinggi khususnya di tempat pesisir pantai.  Tinggi plafon yang dipakai pada  daerah ini berkisar antara 2,8 sampai 3,5 meter.   Walaupun suhunya lebih panas tetapi bukan bermakna menciptakan tinggi plafon sungguh tinggi karena akan berpengaruh juga bila menggunakan pendingin ruangan.

2. Tinggi plafon ideal sesuai fungsi ruang

Tinggi plafon ideal untuk fungsi ruang aula dan gedung pertunjukan

 
Selanjutnya fungsi ruangan juga menentukan tinggi plafon dalam ruangan itu.  Ruangan yang digunakan untuk kegiatan publik ataupun semi  publik umumnya memakai plafon yang lebih tinggi.  Sebut saja ruang keluarga di rumah yang memiliki tinggi lebih dari 3 meter atau aula di sekolah atau kampus yang memiliki tinggi plafon sampai 5 meter.

Sementara untuk ruang yang lebih  intim atau private lazimnya menggunakan tinggi plafon yang lebih rendah.  Misalnya kamar mandi yang rata-rata mempunyai tinggi plafon 2,4 meter.

Baca juga :  Cara Menghitung Biaya Mengecat Tembok


Rekomendasi tinggi plafon untuk ruang tertentu

Gambar di atas merupakan gambaran tinggi plafon untuk berbagai jenis ruang. Untuk ruang privat tinggi plafon bisa dibentuk lebih rendah, untuk ruang yang lebih publik maka tinggi plafon idealnya harus lebih tinggi supaya ruang lebih luas.


 3. Tinggi plafon ideal sesuai dengan proporsi dan estetika

Plafon naik/turun untuk estetika
 
Jika berbicara dalam konteks rancangan maka proporsi dan estetika ini sangatlah penting. Ruangan yang indah ialah ruangan yang proporsional dalam hal panjang, lebar maupun tinggi. Standar rumus untuk tinggi plafon berlaku selaku berikut :

Tinggi plafon = 1/2 x (panjang ruangan+lebar ruangan).

Misalnya ruangan dengan ukuran 4 x 5 meter  akan terlihat lebih proporsional jikalau tinggi plafonnya (5+4)/2 = 4,5 meter.

Selain itu tinggi plafon  juga mampu dimainkan untuk keperluan estetika mirip pada gambardi atas. Terdapat permainan drop ceiling yang menciptakan plafon seolah mempunyai tingkat ketinggian yang berbeda yang digunakan untuk konsentrasi/focal point.

4. Tinggi plafon ideal untuk pencahayaan ruang

Plafon dengan skylight untuk pencahayaan
 
 
Berapa tinggi plafon juga mensugesti pencahayaan  pada ruangan.  Ruangan dengan plafon yang tinggi memerlukan pencahayaan yang lebih banyak sementara ruangan dengan plafon yang lebih rendah memiliki kebutuhan pencahayaan yang relatif lebih kecil.

Baca juga : 10+ Ide Desain Plafon Untuk Ruang Tamu

Ini akan sungguh berpengaruh terhadap pemilihan jenis lampu dan peletakkan titik lampu dalam suatu ruangan.  Plafon yang lebih tinggi mampu memakai pencahayaan yang lebih variatif.
 

5. Tinggi plafon ideal dipengaruhi struktur bangunan

Pengaruh struktur kepada tinggi ideal plafon
 
Untuk rumah atau bangunan dengan lantai bertingkat akan ada perbedaan cara menentukan tinggi plafon yang ideal. Rumah bertingkat akan memerlukan struktur berupa balok dan plat lantai yang mampu menghalangi tinggi plafon. Sementara lantai tingkat tidak mampu dibentuk terlalu tinggi karena akan besar lengan berkuasa pada jumlah anak tangga dan biaya.

Plafon di lantai atas mampu dibentuk dengan ketinggian ideal sementara di lantai bawah tidak mampu karena terbatas. Umumnya plafon hanya bisa dibuat setinggi plat lantai dengan memunculkan balok yang mungkin mengusik. Sebaiknya jarak antar lantai sekurang-kurangnya3,2 meter untuk mampu mendapat pafon dengan ketinggian 2,75 meter yang telah ideal.

5. Tinggi plafon ideal dipengaruhi biaya

Semakin tinggi dan banyak kombinasi pada plafon semakin tinggi ongkosnya
 
 
Selanjutnya hal yang mempengaruhi perhitungan dalam memilih tinggi plafon ideal adalah ongkos.  Semakin tinggi plafon sebuah rumah atau bangunan yang lain pastinya memiliki dinding yang lebih tinggi sehingga membutuhkan biaya lebih.

Hal ini mungkin tidak akan terasa untuk suatu rumah tinggal dengan ruangan yang sedikit.  Namun hal ini akan menjadi sesuatu yang sangat bermakna untuk bangunan bersusun dengan jumlah uang yang sungguh banyak.  Misalnya Hotel, rumah susun, maupun Komplek Perkantoran.  Ini juga menjadi salah satu argumentasi kenapa dalam daerah-kawasan tersebut plafonnya pendek-pendek sekitar 2,5 sampai 2,8 meter.

Biaya tinggi plafon dalam sebuah bangunan setidaknya kita mampu lebih bijak dalam memilih tinggi plafon yang akan dibangun. 
 
Demikianlah perihal cara memilih tinggi plafon ideal berdasarkan beberapa aspek yang bisa mempengaruhi berapa ukuran plafon ideal untuk rumah dan bangunan lainnya.



Sumber https://www.arsitur.com/

Jumat, 21 Mei 2021

Perbedaan Back Of House (Boh) Dan Front Of House (Foh) Pada Restoran

Dalam dunia arsitektur maupun hospitality kita sering mendengar perumpamaan BOH. Ya, kata ini bukanlah hal aneh bagi mereka yang bekerja dalam bisnis hospitality seperti hotel, villa maupun kedai makanan.

Adanya BOH dan FOH dalam dunia hospitality ialah sebuah rancangan yang sudah lama diterapkan untuk mengembangkan efisiensi kinerja kedai makanan atau hotel sehingga mampu memperlihatkan pelayanan terbaiknya kepada konsumen.

Begitu juga dalam perancangan sebuah fasilitas hospitality harus memperhatikan kekerabatan antara Front of House dengan Back Of House sehingga pengguna bangunan dapat melakukan aktivitasnya dengan lebih baik.

Berikut dibaha tentang perbedaan antara Front Of House dengan Back Of House. Dalam kasus ini akan digunakan pola Restoran. silahkan disimak perbedaannya.

1. Front Of House

 Dalam dunia arsitektur maupun hospitality kita sering mendengar istilah BOH Perbedaan Back Of House (BOH) dan Front of House (FOH) pada Restoran
Front of House (FOH)

Apa yang disebut dengan Front Of House atau (FOH) mengacu pada semua kemudahan yang memuat aktivitas hospitality yang eksklusif bekerjasama dengan pelanggan dan merupakan garis depan dalam hospitality. Pada Sebuah Restoran, area FOH adalah selaku berikut :

a. Entry

Merupakan bagian kritis dari FOH sebab memberikan "first impression" atau kesan pertama saat memasuki sebuah restoran. Pintu masuk haruslah mampu menggambarkan suasana yang ditampilkan pada kedai makanan dan gampang dijangkau. Selain itu bentuknya pun harus menarik.

b. Waiting Area

Restoran dengan jam sibuk dan padat hadirin baiknya memiliki waiting area. Waiting area mesti bisa menciptakan pelanggan merasa bersabar dan berkesempatan melihat menu terbaiknya. Selain dari sisi arsitektur, penempatan staf juga penting.

c. Restrooms

Restroom yang dimaksud ialah area servis seperti toilet dan ruang basuh tangan. Pengunjung kedai makanan kemungkinan besar akan mengunjungi area ini, jadi sentuhan desain diharapkan dan juga perlu metode yang mau menciptakan toilet tetap higienis dan busuk selama kedai makanan buka.

d. Bar

Jika restoran menyajikan minuman beralkohol, maka area bar menjadi kuncinya. Bentuk bar haruslah mempesona dan mampu menawan pengunjung di meja makan tiba ke sini. Namun juga mesti mempunyai saluran cepat bagi pelayan untuk mendistribusi minuman dan botol kosong.

e. Dinning Room.

Bagian utama dari kedai makanan dimana pelanggan akan menghabiskan banyak waktu di ruang makan, dan juga di mana banyak karyawan akan bekerja di sini selama shift mereka. Ruang makan mampu ditata dan dikontrol namun harus sesuai dengan rancangan utama restoran. Selain itu perlu diamati perihal anutan barang/orang pada bagian ini.

Pelayan harus mampu bergerak dengan bebas dan pelanggan mesti bisa mengakses kursi dan meja mereka dengan cukup ruang untuk merasa nyaman.

f. Outdoor Seating

Selain ruang makan utama, umumnya kedai makanan juga menyediakan ruang makan outdoor selaku tambahan.

Meja di luar juga mesti tertata dengan biak, dari area makan ke alam terbuka, memberi para tamu situasi yang berlainan untuk mempergunakan outdoor area dikala mendatangi restoran.

Baca juga : 15 Keunggulan Lampu LED Dibandingkan Lampu Lain
 

2. Back Of House

 Dalam dunia arsitektur maupun hospitality kita sering mendengar istilah BOH Perbedaan Back Of House (BOH) dan Front of House (FOH) pada Restoran
Back of House (BOH)

Apa yang disebut dengan Back Of House ialah area dibelakang panggung, area yang tak terlihat pelanggan tetapi juga sangat penting dalam kelancaran aktivitas keseluruhan. Ini yakni garis belakang kawasan disiapkannya segala hal, mulai dari fisik dan non fisik sebelum ditampilkan ke hadapan konsumen di FOH. Dalam Restoran, Area BOH mencakup :

1. Dapur/Kitchen

Dapur umumnya ialah bagian paling besar dari BOH dan dapat dibagi menjadi beberapa bab yang lebih kecil, seperti area penyimpanan masakan, antisipasi masakan, jalur mengolah makanan, area penahan, dan area basuh piring dan sanitasi.

2. Area Pegawai

Ruang istirahat pegawai dan kamar mandi karyawan memberi karyawan kawasan untuk menyimpan barang-barang mereka, beristirahat sejenak sambil bergeser, dan menyaksikan agenda kerja dan catatan dari para manajer.

3. Kantor


Manajer mesti mempunyai area kecil di mana mereka dapat melakukan pekerjaan administratif yang jauh dari hiruk pikuk dan keramaian dapur atau ruang makan.

4. Gudang dan MEP

Selain dapur yang mempunyai gudang, restoran juga baiknya memiliki gudang untuk menyimpan cadangan bangku, meja, piranti, dekorasi dll.

Selain gudang ada pula area untuk MEP yang mencakup kelistrikan, pipa-pipa, CCTV dan lainnya. Hal ini mungkin tak ada relevansinya dengan meja makan konsumen tetapi nyatanya ini sungguh kuat.

BOH dan FOH lazimnya ada pada fasilitas Hotel, Restoran dan SPA.

Demikianlah ihwal BOH, agar berguna. Dukung Web ini semoga tetap update dengan cara like, share dan follow di media umum kami.

Baca juga :

Referensi :

  • https://www.webstaurantstore.com/article/5/front-of-house-vs-back-of-house.html

Sumber https://www.arsitur.com/

Kamis, 13 Mei 2021

5 Material Alternatif Epilog Lantai

Setelah sebelumnya dibahas perihal 5 material penutup lantai yang populer di Indonesia, maka kini akan dibahas tentang 5 Material Alternatif yang mampu digunakan untuk Penutup Lantai yang cukup gampang ditemukan di Indonesia. Berikut ulasannya :

1. Plaster (semen)

 material penutup lantai yang populer di Indonesia 5 Material Alternatif Penutup Lantai
Lantai Plester (Semen)


Lantai dari beton rabat atau plaster saja, tanpa dikeramik. Minus pemakaian keramik mampu meminimalisir biaya cukup banyak karena per meter bervariasi antara 30-200an ribu, ongkos untuk membeli material keramik atau epilog lantai yang lain. Bila berniat untuk memakai karpet, maka mampu diplaster saja, tidak usah memakai keramik. Kesan ruangan juga lebih masbodoh sebab panas diserap oleh plaster tersebut.

Lantai plester yang dibuat dari semen, sehingga harganya tergantung dari semen acian yang digunakan.Lantai plester bisa dibentuk sendiri baik dari campuran semen+pasir atau campuran semen saja dengan ketebalan variatif 3-5 cm tergantug keperluan.

Lantai plester merupakan solusi untuk meminimalkan ongkos epilog lantai.Banyak didapatkan di rumah kelas menengah ke bawah. Tetapi alasannya karakternya yang khas, tak jarang pula para desainer terkemuka memilihnya selaku variasi dari penutup lantai lainnya.

2. Terazzo (teraso)

 material penutup lantai yang populer di Indonesia 5 Material Alternatif Penutup Lantai
Teraso


Lantai Terrazzo Kebanyakan merupakan variasi dari chip marmer dicampur ke dalam beton semen Portland, dan beton semua tidak sama. Lokal Terrazzo kontraktor restorasi akan mampu memilih langkah apa yang perlu diambil agar berhasil melaksanakan Terrazzo lantai proyek restorasi, ini tidak mesti galau dengan pemolesan marmer mereka seperti tapi dua hal yang berbeda.

Juga tahu, ada adonan beton yang berlainan untuk dinding, lantai, dan trotoar dan pekerjaan kanal patch, dan dibutuhkan pengalaman beberapa tahun untuk mengetahui perbedaan saat membersihkan lantai teraso.

Beton dibuat untuk teraso bermacam-macam, sebagian besar kesalahan yang dibuat dari tidak mengakui detail tersembunyi dari lantai teraso dan ini mampu mengakibatkan peningkatan biaya dalam memperbaiki teraso, beberapa kali mesin berlian profesional grinding semua yang diharapkan ketika memoles lantai teraso.

Baca juga : 11 Jenis Semen dalam Konstruksi Bangunan

3. Batu Andesit

 material penutup lantai yang populer di Indonesia 5 Material Alternatif Penutup Lantai
Lantai Batu Andesit


Andesit yaitu sebuah jenis batuan beku vulkanik dengan komposisi antara dan tekstur spesifik yang umumnya didapatkan pada lingkungan subduksi tektonik di daerah perbatasan lautan seperti di pantai barat Amerika Selatan atau tempat-tempat dengan acara vulkanik yang tinggi seperti Indonesia. Nama andesit berasal dari nama Pegunungan Andes.

Batu andesit banyak dipakai dalam bangunan-bangunan megalitik, candi dan piramida. Begitu juga perkakas-perkakas dari zaman prasejarah banyak memakai material ini, misalnya: sarkofagus, punden berundak, lumpang kerikil, meja kerikil, arca dll.

kerikil andesit cocok untuk lantai eksterior alasannya adalah sifat dan ketahananya. Penggunaan untuk interior biasanya untuk kamar mandi sebagai aksen untuk shower dan bathtub. Permukaan kerikil yang berangasan cocok untuk daerah berair biar tidak selip.

4. Paving

 material penutup lantai yang populer di Indonesia 5 Material Alternatif Penutup Lantai
Lantai Paving


Paving blok (bata beton) adalah sebuah komposisi materi bangunan yang dibentuk dari campuran semen portland atau bahan perekat hidrolis sejenisnya, air dan agregat dengan atau tanpa materi yang lain yang tidak mengurangi mutu bata beton.

Diantara banyak sekali macam alternatif penutup permukaan tanah, paving blok lebih memiliki banyak kombinasi baik dari segi bentuk, ukuran, warna, corak dan tekstur permukaan, serta kekuatan. Penggunaan paving blok juga mampu divariasikan dengan jenis paving atau bahan bangunan epilog tanah yang lain.

Paving umumnya diguakan untuk lantai eksterior ruang. Namun tak menutup kemngkinan paving digunakan untuk area interior utamanya garase dan gudang. Paving umumnya digunakan untuk jalan (sirkulasi).Paving memperlihatkan nuansa rapi bagi lantai yang Menggunakannya. Seringkali paving berlumut dan menjadi licin ketika hujan, disamping itu pemasangan yang tidak rata menyebabkan genangan air.

Baca juga : Alternatif Material Pengganti Kayu

5. Batu Lempeng (Batu Templek)

 material penutup lantai yang populer di Indonesia 5 Material Alternatif Penutup Lantai
Lantai Batu Alam (Lempeng)


Batu Templek merupajan jenis batuan metamorf yang terbentuk alasannya pergeseran tekanan dan suhu yang tinggi ayau geothermal. Templek, lempeng atau yang lebih dikenal dengan Slate terbentuk dari lempung dan batuan shale.

Dinamakan watu templek atau kerikil lempeng alasannya watu nya menyerupai lempengan tipisBahan galian ini tersebar di beberapa lokasi; kawasan Kecamatan Cisewu, mirip Pasir Ciaseup, Kampung Ciawitali (Desa Girimukti), Kampung Lio, Cipicing, Ciguntur, Cilumbu dan Dataran Loa (Desa Cisewu) dan Salam Magelang ( Dusun Waru).

Aplikasi watu lempeng memberi keindahan dan kesan natural yang bagus. Penggunaan lazimnya untuk bagian eksterior ruangan. Namun tak menutup kemungkinan dipraktekkan untuk interior yang memerlukan nuansa natural watu alam.

Demikian perihal 5 Material Alternatif Penutup Lantai.

Sumber https://www.arsitur.com/

Rabu, 12 Mei 2021

3 Material Epilog Lantai Buatan Yang Futuristik

Perkembangan teknologi mebawa berbagai pergeseran dalam dunia arsitektur. Tidak cuma dari sisi teknik konstruksi, namun juga dalam materi-materi yang dipergunakan. Material epilog lantai alami kian menipis ketersediaannya di alam. 

Teknologi hadir menjawab keperluan tersebut. Berikut dijelaskan 3 material penutup lantai bikinan yang futuristik dan terkenal di Indonesia.

1. Kayu Laminasi

 Perkembangan teknologi mebawa banyak sekali perubahan dalam dunia arsitektur 3 Material Penutup Lantai Buatan yang Futuristik
Kayu Laminasi


Kayu laminasi ialah material semi organik yang dibuat dari materi fibreboard dan heterogenous (campuran). Bahan dasarnya memiliki ketahanan yang tinggi serta tahan cuaca maupun rayap.

Untuk lapisan atasnya merupakan bahan laminasi atau printing dengan motof-motif alami kayu. Kemiripan motifnya dengan kayu asli meraih 80% dengan kualitas bahan yang lebih baik daripada kayu orisinil. Pada permukaannya tidak cuma warnanya yang mirip kayu tetapi juga serat dan teksturnya dibuat ibarat kayu asli.

Selain motif kayu, juga tersedia motif lain mirip batu alam dan motif marmer/granit yang banyak variasinya. Harga yang disediakan relatif lebih murah dibanding kayu solid.

2. Vinyil

 Perkembangan teknologi mebawa banyak sekali perubahan dalam dunia arsitektur 3 Material Penutup Lantai Buatan yang Futuristik
Lantai Vinyil


Vinyl ialah penutup lantai sering dipakai untuk Perkantoran, Gudang, Rumah sakit, Mall dan Perumahan.Vinyl tersedia dalam bentuk rol dan lembaran/tile. Vinyl dalam bentuk lembaran lazimnya ukuran 30×30 cm dan rol dengan ukuran 2 x 20 mtr/rol.

lantai vinyil termasuk penyelesaian gres bagi para desainer yang ingin memberi permainan pada penutup lantai. Dengan motif yang bermacam-macam serta warna yang variatif menjadikan vinyil sebuah bahan yang diperhitungkan.Lantai vinyil mempunyai banyak variasi sehingga kesan yang ditimbulkan pun bermacam-macam.

Baca juga : Jenis Dinding pada Bangunan

3. Karpet

 Perkembangan teknologi mebawa banyak sekali perubahan dalam dunia arsitektur 3 Material Penutup Lantai Buatan yang Futuristik
Lantai Karpet


Lantai karpet mampu dibagi menjadi 2 jenis.Yang pertama adalah karpet satuan yang biasa dipakai selaku aksen komplemen ruangan. Motif dan warnanya sangat beragam dengan bahan baku yang beragam pula. Ukurannya pun barmacam-macam dengan bentuk kotak, persegi ataupun lingkaran.Jenis kedua adalah karpet yang secara permanen ditempel pada lantai seluruh ruangan.

Lantai jenis ini cuma cocok digunakan di kawasan subtropis atau ruangan yang menggunakan pendingin ruangan (AC). Kita sering menemui jenis lantai ini di kantor atau kamar hotel. Kelebihannya ialah munculnya kesan hangat dan proses pemasangannya yang gampang.

Demikianlah 3 material epilog lantai yang futuristik dan populer di Indonesia. Teknologi terus meningkat sehingga sungguh memungkinkan lahirnya material gres selaku materi bangunan epilog lantai.


Sumber https://www.arsitur.com/

Selasa, 11 Mei 2021

Pemahaman Komponen Penyusun Ruang Dalam Arsitektur

Pengertian Elemen Penyusun Ruang

 Elemen penyusun ruang merupakan komponen Pengertian Elemen Penyusun Ruang dalam Arsitektur
Elemen Penyusun Ruang dalam Arsitektur


Elemen penyusun ruang ialah komponen-unsur yang melekat dan menjadi satu dengan ruang dan berfungsi membatasi ruangan tersebut sekaligus pertanda batas masuk/keluar ruangan tersebut.Elemen penyusun ruang tidak hanya berupa komponen padat (solid) tetapi juga bisa berbentukrongga-rongga (void).

Baca juga : Ritme dalam Desain Arsitektur dan Contohnya

1. Elemen horizontal bawah

Elemen horizontal bawah merupakan komponen yang mutlak harus ada (alasannya adalah kita berada di bumi mesti berpijak pada sesuatu), sementara elemen lain tidak mesti ada.Elemen horizontal bawah mampu membentuk suatu ruang dengan adanya perbedaan warna/material/tekstur/pola lantai dan sebagainya.

Tikar digelar membentuk komponen ruang bawah


Sebagai acuan, sebuah tikar yang tergelar sudah dapat membentuk ruang sebab warna dan material serta teksturnya yang berlainan dengan sekitarnya.Selain itu elemen horizontal bawah juga dapat divariasikan dengan dinaikkan atau ditenggelamkan. Semakin banyak beda ketinggian elemen horizontal bawah dengan sekitarnya, maka kesan keterpisahan ruangnya semakin besar lengan berkuasa.

2. Elemen horizontal atas

Daun-daunan pepohonan mampu menjadi bagian ruang atas


Elemen horizontal atas dapat berupa langit-langit, atap atau apapun yang membatasi ruang di bab atas.Sama dengan bagian horizontal bawah, komponen ini mampu divariasikan dengan warna, tekstur, material, contoh-pola dan sebagainya.bagian ini juga dapat divariasikan ketinggiannya.

Selain itu, kita juga dapat memvariasikan dengan permainan solid-void, opak-transparan (hal ini susah diterapkan pada unsur horizontal bawah). Variasi yang ditemukan tak terhingga banyaknya. Bahkan dedaunan suatu pohon pun sudah dapat menjadi elemen horizontal atas (dan bayangannya menjadi unsur horizontal bawah).

Baca juga : Antropometri dalam Arsitektur dan Desain

3. Elemen vertikal

Orang awam sering menganggap elemen vertikal selalu sebagai dinding.Padahal suatu elemen vertikal mempunyai variasi yang berbagai.Bisa berwujud dinding, dengan berbagai kombinasi ketinggian, atau kolom-kolom dengan banyak sekali variasi ketinggian juga, bisa juga dengan gantungan pot-pot bunga, atau kerai bambu, rangka kayu dan sebagainya.

Bisa juga kita membuat teladas sebagai elemen vertikal kita.Variasinya beragam.Jika kita pergi ke los daging di pasar, kita bahkan bisa menyaksikan bagaimana daging-daging yang bergelantungan menjadi pembentuk ruang yang memisahkan area pembeli dan pedagang .

Ketiga bagian ini secara bareng membentuk sebuah ruang, dengan mutu ruang tertentu.Setiap pilihan mempunyai konsekuensi tersendiri terhadap mutu ruang yang terbentuk. 

 Elemen penyusun ruang merupakan komponen Pengertian Elemen Penyusun Ruang dalam Arsitektur
Air terjun mampu membentuk ruang vertikal

Sebagai acuan, kalau kita menentukan membentuk ruang dengan hanya memakai komponen horizontal yang divariasikan dengan warna namun ketinggiannya sama dengan sekitarnya, maka akan terbentuk rasa ruang yang terbuka, alasannya adalah kita masih bisa melakukan kontak secara fisik dan visual dengan segala yang ada di luar ruang tersebut.

Hal ini berlainan sekali bila kita membentuk ruang dengan memakai unsur horizontal atas dan bawah serta bagian vertikal berbentukdinding-dinding yang masif.rasa ruang yang ditemukan yaitu rasa tertutup.

Sumber https://www.arsitur.com/